AUM

LEMBAR JAWABAN
ALAT UNGKAP MASALAH SMA

Nama : …………….………..…………………………………
Jenis Kelamin : …………….………..…………………………………
No. Induk : …………….………..…………………………………
Kelas : …………….………..…………………………………
Tanggal Pengisian : …………….………..…………………………………

Langkah Pertama :

Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan permasalahan yang terdapat dalam Buku Daftar Masalah dan tandailah masalah yang menjadi keluhan dan mengganggu Anda pada saat sekarang, dengan cara meyilangi (X) nomor masalah yang sesuai, pada lembar jawaban ini:

JDK 001 002 003 004 005 KDP 006 007 008 009 010 PDP 011 012 013 014 015
016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030
031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045
046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060
061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075
DPI 076 077 078 079 080 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090
091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 103 104 105
106 107 108 109 110 ANM 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120
121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135
HSO 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150
151 152 153 154 155 HMM 156 157 158 159 160 KHK 161 162 163 164 165
166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180
EDK 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195
196 197 198 199 200 WSG 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210
211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225

Langkah Kedua :

Perhatikan dan baca kembali jawaban yang telah Anda isi, kemudian pilih masalah-masalah yang menurut Anda dirasakan paling mengganggu dengan cara memasukkan nomor masalah pada kolom berikut ini :

Nomor – nomor masalah yang dirasakan paling menggangu

Langkah Ketiga :

1. Apakah sudah menggambarkan seluruh masalah Anda?

Ya Tidak

2. Masalah lain yang Anda hadapi?

————————————————————————

————————————————————————

————————————————————————

3. Apakah Anda ingin konsultasi?

Ya Tidak

Jika “ Ya”, kepada siapa Anda ingin berkonsultasi?

a. Guru Bimbingan dan Konseling
b. Orang tua
c. Teman
d. …………………………..

BUKU DAFTAR MASALAH

BIMBINGAN DAN KONSELING
SMA NEGERI SEMBARANGAN
KABUPATEN SEMBARANGAN

DAFTAR MASALAH

001. Badan terlalu kurus, atau terlalu gemuk
002. Warna kulit kurang memuaskan
003. Berat badan terus berkurang, atau bertambah.
004. Badan terlalu pendek, atau terlalu gemuk.
005. Secara jasmaniah kurang menarik.
006. Belum mampu memikirkan dan memilih pekerjaan yang akan dijabat nantinya.
007. Belum mengetahui bakat diri sendiri untuk jabatan/pekerjaan apa.
008. Kurang memiliki pengetahuan yang luas tentang lapangan pekerjaan dan seluk beluk jenis-jenis pekerjaan.
009. Ingin memperoleh bantuan dalam mendapatkan pekerjaan sambilan untuk melatih diri bekerja sambil sekolah.
010. Khawatir akan pekerjaan yang dijabatnya nanti; jangan-jangan memberikan penghasilan yang tidak mencukupi.
011. Terpaksa atau ragu-ragu memasuki sekolah ini.
012. Meragukan kemanfaatan memasuki sekolah ini.
013. Sukar menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah.
014. Kurang meminati pelajaran atau jurusan atau program yang diikuti.
015. Khawatir tidak dapat menamatkan sekolah pada waktu yang direncanakan.
016. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan mata kurang baik.
017. Mengalami gangguan tertentui karena cacat jasmani.
018. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan hidung kurang baik.
019. Kondisi kesehatan kulit sering terganggu.
020. Gangguan pada gigi.
021. Ragu akan kemampuan saya untuk sukses dalam bekerja.
022. Belum mampu merencanakan masa depan.
023. Takut akan bayangan masa depan.
024. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan pekerjaan yang layak atau tidak layak untuk dijabat.
025. Khawatir diperlakukan secara tidak wajar atau tidak adil dalam mencari dan/atau melamar pekerjaaan.
026. Sering tidak masuk sekolah.
027. Tugas-tugas pelajaran tidak selesai pada waktunya.
028. Sukar memahami penjelasan guru sewaktu pelajaran berlangsung.
029. Mengalami kesulitan dalam membuat catatan pelajaran.
030. Terpaksa mengikuti mata pelajaran yang tidak disukai.

031. Fungsi dan/atau kondisi kerongkongan kurang baik atau sering terganggu,misalnya serak.
032. Gagap dalam berbicara.
033. Fungsi dan/atau kondisi kesehatan telinga kurang baik.
034. Kurang mampu berolahraga karena kondisi jasmani yang kurang baik.
035. Gangguan pada pencernaan makanan.
036. Kurang yakin terhadap kamampuan pendidikan sekarang ini dalam menyiapkan jabatan tertentu nantinya.
037. Ragu tentang kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang diikuti sekarang ini.
038. Ingin mengikuti kegiatan pelajaran dan/atau latihan khusus tertentu yang benar-benar menunjang proses mencari dan melamar pekerjaan setamat pendidikan ini.
039. Cemas kalau menjadi penganggur setamat pendidikan ini.
040. Ragu apakah setamat pendidikan ini dapat bekerja secara mandiri.
041. Gelisah dan/atau melakukan kegiatan tidak menentu sewaktu pelajaran berlangsung, misalnya membuat coret-coretan dalam buku,cenderung mengganggu teman.
042. Sering malas belajar.
043. Kurang konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.
044. Khawatir tugas-tugas pelajaran hasilnya kurang memuaskan atau rendah.
045. Mengalami masalah kerena kemajuan atau hasil belajar hanya diberitahukan pada akhir catur wulan.
046. Sering pusing dan/atau mudah sakit.
047. Mengalami gangguan setiap datang bulan.
048. Secara umum merasa tidak sehat.
049. Khawatir mengidap penyakit turunan.
050. Selera makan sering terganggu.
051. Hasil belajar atau nilai-nilai kurang memuaskan.
052. Mengalami masalah dalam belajar kelompok.
053. Kurang berminat dan/atau kurang mampu mempelajari buku pelajaran.
054. Takut dan/atau kurang mampu berbicara di dalam kelas dan/atau di luar kelas.
055. Mengalami kesulitan dalam ejaan, tata bahasa dan/atau perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia.
056. Mengalami masalah dalam menjawab pertanyaan ujian.
057. Tidak mengetahui dan/atau tidak mampu menerapkan cara-cara belajar yang baik.
058. Kekurangan waktu untuk belajar.
059. Mengalami masalah dalam menyusun makalah, laporan atau karya tulis lainnya.
060. Sukar mendapatkan buku pelajaran yang diperlukan.
061. Mengidap penyakit kambuhan.
062. Alergi terhadap makanan atau keadaan tertentu.
063. Kurang atau susah tidur.
064. Mengalami gangguan akibat merokok atau minuman atau obat-obatan.
065. Khawatir tertular penyakit yang diderita orang lain.
066. Mengalami kesulitan dalam pemahaman dan penggunaan istilah dan/atau Bahasa Inggris dan/atau bahasa asing lainnya.
067. Kesulitan dalam membaca cepat dan/atau memahami isi buku pelajaran.
068. Takut menghadapi ulangan/ujian.
069. Khawatir memperoleh nilai rendah dalam ulangan/ujian ataupun tugas-tugas.
070. Kesulitan dalam mengingat materi pelajaran.
071. Seringkali tidak siap menghadapi ujian.
072. Sarana belajar di sekolah kurang memadai.
073. Orang tua kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di sekolah dan/atau dirumah.
074. Anggota keluarga kurang peduli dan/atau kurang membantu kegiatan belajar di sekolah dan/atau dirumah.
075. Sarana belajar dirumah kurang memadai.
076. Sering mimpi buruk.
077. Cemas atau khawatir tentang sesuatu yang belum pasti.
078. Mudah lupa.
079. Sering melamun atau berkhayal.
080. Ceroboh atau kurang hati-hati.
081. Cara guru menyajikan pelajaran terlalu kaku dan/atau membosankan.
082. Guru kurang bersahabat dan/atau membimbing siswa.
083. Mengalami masalah karena disiplin yang diterapkan oleh guru.
084. Dirugikan karena dalam menilai kemajuan atau keberhasilan siswa guru kurang objektif.
085. Guru kurang memberikan tanggung jawab kepada siswa.
086. Guru kurang adil atau pilih kasih.
087. Ingin dekat dengan guru.
088. Guru kurang memperhatikan kebutuhan dan/atau keadaan siswa.
089. Mendapat perhatian khusus dari guru tertentu.
090. Dalam memberikan pelajaran dan/atau berhubungan dengan siswa sikap dan/atau tindakan guru sering berubah-ubah sehingga membingungkan siswa.

091. Sering murung dan/atau merasa tidak bahagia.
092. Mengalami kerugian atau kesulitan karena terlampau hati-hati.
093. Kurang serius menghadapi sesuatu yang penting.
094. Merasa hidup ini kurang berarti.
095. Sering gagal dan/atau mudah patah semangat.
096. Khawatir akan dipaksa melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
097. Kekurangan informasi tentang pendidikan lanjutan yang dapat dimasuki setamat sekolah ini.
098. Ragu tentang kemanfaatan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
099. Khawatir tidak mampu melanjutkan pelajaran setamat dari sekolah ini dan/atau terlalu memikirkan pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
100. Ragu apakah sekolah sekarang ini mampu memberikan modal yang kuat bagi para siswanya untuk menempuh pendidikan yang lebih lanjut.
101. Khawatir tidak tersedia biaya untuk melanjutkan pekerjaan setamat sekolah ini.
102. Tidak dapat mengambil keputusan tentang apakah akan mencari pekerjaan atau melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
103. Khawatir tuntutan dan proses pendidikan lanjutan setamat sekolah ini sangat berat.
104. Terdapat pertentangan pendapat dengan orang tua dan/atau anggota keluarga lain tentang rencana melanjutkan pelajaran setamat sekolah ini.
105. Khawatir tidak mampu bersaing dalam upaya memasuki pendidikan lanjutan setamat sekolah ini.
106. Mudah gentar atau khawatir dalam menghadapi dan/atau mengemukakan sesuatu.
107. Penakut, pemalu, dan/atau mudah menjadi bingung.
108. Keras kepala atau sukar mengubah pendapat sendiri meskipun kata orang lain pendapat itu salah.
109. Takut mencoba sesuatu yang baru.
110. Mudah marah atau tidak mampu mengendalikan diri.
111. Mengalami masalah untuk pergi ke tempat peribadatan.
112. Mempunyai pandangan dan/atau kebiasaan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
113. Tidak mampu melaksanakan tuntutan keagamaan dan/atau khawatir tidak mampu menghindari larangan yang ditentukan oleh agama.
114. Kurang menyukai pembicaraan tentang agama.
115. Ragu dan ingin memperoleh penjelasan lebih banyak tentang kaidah-kaidah agama.
116. Mengalami kesulitan dalam mendalami agama.
117. Tidak memiliki kecakapan dan/atau sarana untuk melaksanakan ibadah agama.
118. Mengalami masalah karena membandingkan agama yang satu dengan yang lainnya.
119. Bermasalah karena anggota keluarga tidak seagama.
120. Belum menjalankan ibadah agama sebagaimana diharapkan.
121. Merasa kesepian dan/atau takut ditinggal sendiri.
122. Sering bertingkah laku, bertindak, atau bersikap kekanak-kanakan.
123. Rendah diri atau kurang percaya diri.
124. Kurang terbuka terhadap orang lain.
125. Sering membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
126. Berkata dusta dan/atau berbuat tidak jujur untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti membohongi teman,berlaku curang dalam ujian.
127. Kurang mengetahui hal-hal yang menurut orang lain dianggap baik atau buruk,benar atau salah.
128. Tidak dapat mengambil keputusan tentang sesuatu karena kurang memahami baik-buruknya atau benar-salahnya sesuatu itu.
129. Merasa terganggu oleh kesalahan atau keburukan orang lain.
130. Tidak mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengatakan kepada orang lain tentang sesuatu yang baik atau buruk,benar atau salah.
131. Khawatir atau merasa ketakutan akan akibat perbuatan melanggar kaidah-kaidah agama.
132. Kurang menyukai pembicaraan yang dilontarkan di tempat peribadatan.
133. Kurang taat dan/atau kurang khusyuk dalam menjalankan ibadah agama.
134. Mengalami masalah karena memiliki pandangan dan/atau sikap keagamaan yang cenderung fanatik atau berprasangka.
135. Meragukan manfaat ibadah dan/atau upacara keagamaan.
136. Tidak menyukai atau tidak disukai seseorang.
137. Merasa diperhatikan, dibicarakan atau diperolokkan orang lain.
138. Mengalami masalah karena ingin lebih terkenal atau lebih menarik atau lebih menyenangkan bagi orang lain.
139. Mempunyai kawan yang kurang disukai orang lain.
140. Tidak mempunyai kawan akrab, hubungan sosial terbatas atau terisolir.
141. Merasa terganggu karena melakukan sesuatu yang menjadikan orang lain tidak senang.
142. Terlanjur berbicara, bertindak atau bersikap yang tidak layak kepada orang tua dan/atau orang lain.
143. Sering ditegur karena dianggap melakukan kesalahan, pelanggaran atau sesuatu yang tidak layak.
144. Mengalami masalah karena berbohong atau berkata tidak layak meskipun sebenarnya dengan maksud sekedar berolok-olok atau menimbulkan suasana gembira.
145. Tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya perlu dilakukan.
146. Takut dipersalahkan karena melanggar adat.
147. Mengalami masalah karena memiliki kebiasaan yang berbeda dari orang lain.
148. Terlanjur melakukan sesuatu perbuatan yang salah, atau melanggar nilai-nilai moral atau adat.
149. Merasa bersalah karena terpaksa mengingkari janji.
150. Mengalami persoalan karena berbeda pendapat tentang suatu aturan dalam adat.
151. Kurang perduli terhadap orang lain.
152. Rapuh dalam berteman.
153. Merasa tudak dianggap penting, diremehkan atau dikecam oleh orang lain.
154. Mengalami masalah dengan orang lain karena kurang perduli terhadap diri sendiri.
155. Canggung dan/atau tidak lancar berkomunikasi dengan orang lain.
156. Membutuhkan keterangan tentang persoalan seks, pacaran dan/atau perkawinan.
157. Mengalami masalah karena malu dan kurang terbuka dalam membicarakan soal seks, pacar dan/atau jodoh.
158. Khawatir tidak mendapatkan pacar atau jodoh yang baik/cocok.
159. Terlalu memikirkan tentang seks, percintaan, pacaran atau perkawinan.
160. Mengalami masalah karena dilarang atau merasa tidak patut berpacaran.
161. Bermasalah karena kedua orang tua hidup berpisah atau bercerai.
162. Mengalami masalah karena ayah dan/atau ibu kandung telah meninggal.
163. Mengkhawatirkan kondisi kesehatan anggota keluarga.
164. Mengalami masalah karena keadaan dan perlengkapan tempat tinggal dan/atau rumah orang tua kurang memadai.
165. Mengkhawatirkan kondisi orang tua yang bekerja terlalu berat.
166. Tidak lincah dan kurang mengetahui tentang tata krama pergaulan.
167. Kurang pandai memimpin dan/atau mudah dipengaruhi orang lain.
168. Sering membantah atau tidak menyukai sesuatu yang dikatakan/dirasakan orang lain atau dikatakan sombong.
169. Mudah tersinggung atau sakit hati dalam berhubungan dengan orang lain.
170. Lambat menjalin persahabatan.
171. Kurang mendapat perhatian dari jenis kelamin lain atau pacar.
172. Mengalami masalah karena ingin mempunyai pacar.
173. Canggung dalam menghadapi jenis kelamin lain atau pacar.
174. Sukar mengendalikan dorongan seksual.
175. Mengalami masalah dalam memilih teman akrab dari jenis kelamin lain atau pacar.
176. Keluarga mengeluh tentang keadaan keuangan.
177. Mengkhawatirkan keadaan orang tua yang bertempat tinggal jauh.
178. Bermasalah karena ibu atau bapak akan kawin lagi.
179. Khawatir tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan orang tua atau anggota keluarga lain.
180. Membayangkan dan berpikir-pikir seandainya menjadi anak dari keluarga lain.
181. Mengalami masalah karena kurang mampu berhemat atau kemampuan keuangan sangat tidak mencukupi, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan pekerjaan.
182. Khawatir tidak mampu menamatkan sekolah ini atau putus sekolah dan harus segera bekerja.
183. Mengalami masalah karena terlalu berhemat dan/atau ingin menabung.
184. Kekurangan dalam keuangan menyebabkan dalam pengembangan diri terhambat.
185. Untuk memenuhi keuangan terpaksa sekolah sambil bekerja.
186. Mengalami masalah karena takut atau sudah terlalu jauh berhubungan dengan jenis kelamin lain atau pacar.
187. Bertepuk sebelah tangan dengan kawan akrab atau pacar.
188. Takut ditinggalkan pacar atau patah hati, cemburu atau cinta segitiga.
189. Khawatir akan dipaksa kawin.
190. Mengalami masalah karena sering dan mudah jatuh cinta dan/atau rindu kepada pacar.
191. Kurang mendapat perhatian dan pengertian dari orang tua dan/atau anggota keluarga.
192. Mengalami kesulitan dengan bapak atau ibu tiri.
193. Diperlakukan tidak adil oleh orang tua atau oleh anggota keluarga lainnya.
194. Khawatir akan terjadinya pertentangan atau percekcokan dalam keluarga.
195. Hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga kurang hangat, kurang harmonis dan/atau kurang menggembirakan.
196. Mengalami masalah karena ingin berpenghasilan sendiri.
197. Berhutang yang cukup memberatkan.
198. Besarnya uang yang diperoleh dan sumber-sumbernya tidak menentu.
199. Khawatir akan kondisi keuangan orang tua atau orang yang menjadi sumber keuangan; jangan-jangan harus menjual atau menggadaikan harta keluarga.
200. Mengalami masalah karena keuangan dikendalikan oleh orang lain.
201. Kekurangan waktu senggang, seprti waktu istirahat, waktu luang d sekolah ataupun dirumah, waktu libur untuk bersikap santai dan/atau melakukan kegiatan yang menyenangkan atau rekreasi.
202. Tidak diperkenankan atau kurang bebas dalam menggunakan waktu senggang yang tersedia untuk kegiatan yang disukai/diingini.
203. Mengalami masalah untuk mengikutikegiatan acara-acara gembira dan santai bersama kawan-kawan.
204. Tidak mempunyai kawan akrab untuk bersama-sama mengisi waktu senggang.
205. Mengalami masalah karena memikirkan atau membayangkan kesempatan waktu berlibur ditempat yang jauh, indah, tenang dan menyenangkan.
206. Mengalami masalah karena menjadi anak tunggal, anak sulung, anak bungsu, satu-satunya anak laki-laki atau satu-satunya anak perempuan.
207. Hubungan kurang harmonis dengan kakak atau adik atau dengan anggota keluarga lainnya.
208. Orang tua atau keluarga anggota lainnya terlalu berkuasa atau kurang memberi kebebasan.
209. Dicurigai oleh orang tua atau anggota keluarga lain.
210. Bermasalah karena dirumah orang tua tinggal orang atau anggota keluarga lain.
211. Mengalami masalah karena membanding-bandingkan kondisi keuangan sendiri dengan kondisi keuangan orang lain.
212. Kesulitan dalam mendapatkan penghasilan sendiri sambil sekolah.
213. Mempertanyakan kemungkinan memperoleh beasiswa atau dana bantuan belajar lainnya.
214. Orang lain menganggap pelit dan/atau tidak mau membantu kawan yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
215. Terpaksa berbagi pengeluaran keuangan dengan kakak atau adik atau anggota keluarga lain yang sama-sama membutuhkan biaya.
216. Tidak mengetahui cara menggunakan waktu senggang yang ada.
217. Kekurangan sarana, seperti biaya, kendaraan, televisi, buku-buku bacaan, dan lain-lain untuk memanfaatkan waktu senggang.
218. Mengalami masalah karena cara melaksanakan kegiatan atau acara yang kurang tepat dalam menggunakan waktu senggang.
219. Mengalami masalah dalam menggunakan waktu senggang karena tidak memiliki keterampilan tertentu, seperti bermain musik, olah raga, menari dan sebagainya.
220. Kurang berminat atau tidak ada hal yang menarik dalam memanfaatkan waktu senggang yang tersedia.
221. Tinggal di lingkungan keluarga atau tetangga yang kurang menyenangkan.
222. Tidak sependapat dengan orang tua atau anggota keluarga tentang sesuatu yang direncanakan.
223. Orang tua kurang senang kawan-kawan datang ke rumah.
224. Mengalami masalah karena rindu dan ingin bertemu dengan orang tua dan/atau anggota keluarga lainnya.
225. Tidak betah dan ingin meninggalkan rumah karena keadaannya sangat tidak menyenangkan.

Layanan Bimbingan Konseling Sarat Nilai

Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai

Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat, 6 September 2006, hal. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut :

Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan, pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum.melalui pendidikan. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor.

Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik, menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan, dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai, layanan etis normatif, dan bukan layanan bebas nilai. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai, namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani), dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya, melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya.

Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya, seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani; (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling; (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan; (4) mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan, (5) yang dilandasi sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung.

Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP, Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Menurutnya, bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. Misalnya, pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya., misalnya melalui asesmen psikologis, dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya, baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya, baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik.

Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri, melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik.

Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL), acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral, akademik, pribadi-sosial, dan karier. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling.

Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu, melalui direct behavioral consultation.

Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.

Pada jenjang SMP dan SMA, layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya.. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis, berkolaborasi dengan guru bidang vokasional.

Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok, baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif, sejahtera, serta berguna untuk manusia lain.

Selain itu, dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities), merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak, terutama guru pendidikan khusus. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat, pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Dalam hal ini, konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan, yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya, seperti dalam olah raga, seni dan sebagainya

Atas semua itu, saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti, Ditjen PMPTK, BSNP, Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor, pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor.

Sumber : Sunayo Kartadinata.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”.Pikiran Rakyat, 6 September 2006, hal. 20

NISN

Jurnal Bimbingan Konseling UM

Prinsip-Prinsip Efisiensi Perilaku Individu untuk Kehidupan yang Sukses (Sutoyo Imam Utoyo, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Sukses pada dasarnya adalah pencapaian sesuatu tujuan yang dengan segala daya upaya diperjuangkan seseorang sehingga sungguh-sungguh terwujud. Hidup sukses adalah hidup seseorang yang sungguh-sungguh mencapai tujuan yang didambakannya dengan diiringi kepuasan batin dan kesehatan fisik-mental serta prospek pengembangan diri yang seluas mungkin. Kepusasn batin berarti perasaan bahagia dalam diri seseorang tanpa adanya kerisauan, ketakutan atau pertentangan batin. Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) adalah suatu keadaan sejahtera jasmaniah, rohaniah maupun sosial dan bukan semata-mata ketiadaan penyakit dan kelemahan. Sedang pengembangan diri yang selengkapnya meliputi segi-segi fisik, sosial, emosional, intelektual, moral, dan spiritual. Kalau hidup ini diterima sebagai suatu kurnia yang baik, pengalaman yang indah, dan kenyataan yang benar, maka setiap orang perlu berusaha mencapai suatu hidup yang sukses. Dengan demikian, segenap potensi kemampuan yang tertanam pada setiap orang (misalnya kemampuan berpikir, berkemauan, bercitarasa) tidaklah tersia-siakan. Demikian pula, dapatlah berkembang sepenuhnya empat dimensi pokok hidup manusia berupa: berada (to be), mengetahui (to know), berbuat (to do), dan memiliki (to have).

Burnout Wanita Karir dan Gaya Interaksional Suami: Menuju Paradigma Konseling untuk Wanita Karir (Andi Mappiare A.T., Universitas Negeri Malang)
Abstract: Keberadaan burnout individu merupakan hal real dalam kehidupan sosial-ekonomi, khusus dalam dunia kerja wanita karir. Burnout atau stres-kerja itu memiliki gejala yang jelas dengan sebab-sebab yang kompleks. Gaya interaksional suatu keluarga, khususnya pasangan suami-isteri dapat memiliki korelasi dengan taraf burnout satu pihak pasangan atau kedua pihak yang berinteraksi. Gaya interaksional suami, secara teoritik, dapat menjadi sebab bagi burnout insteri, dan potensial pula sebagai penyehat bahkan penyembuh burnout isteri. Tesis di atas ini merupakan sebagaian kecil landasan konseling dalam paradigma Sistemik-Relasional dan paradigma Kontekstual.

Penggunaan Bibliokonseling sebagai Salah Satu Strategi Membantu Klien (Blasius Boli Lasan, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Konseling sebagai teknologi bantuan kemanusiaan memerlukan strategi yang tepat agar subjek layanan memperoleh manfaat bagi dirinya. Bibliokonseling merupakan salah satu strategi bantuan dengan menggunakan informasi dalam bahan pustaka. Strategi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa meningkatkan prestasi belajar, mengubah konsep diri, memodifikasi sikap sosial, meningkatkan kesehatan dan sebagainya. Dalam kerangka itu, konselor perlu mengembangkan bibliokonseling yang sudah dirancang itu dapat disajikan dengan teknik kelola sendiri, kontak minimal, kelola-konselor, dan arahan konselor. Pelaksanaannya, tentu saja, memperhatikan prinsip seperti kebenaran dan keberdayaan informasi, keefisienan, kemanfaatan, keaktifan klien, dan kemenarikan.

Urgensi Pemberian Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Siswa Luar Biasa di Sekolah Luar Biasa (Abdul Hadis, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Siswa luar biasa sebagai bagian integral dari siswa pada umumnya memiliki berbagai jenis kebutuhan untuk tetap aksis dalam kehidupan di masyarakat. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya, siswa luar biasa juga mengalami kesulitan seperti halnya kesulitan yang dialami oleh siswa pada umumnya di sekolah biasa. Akan tetapi tingkat kesulitan pemenuhan kebutuhan siswa luar biasa lebih tinggi ketimbang dengan tingkat kesulitan pemenuhan kebutuhan siswa biasa sebagai akibat dari keluarbiasaan yang diderita. Untuk membantu mengatasi kesulitan siswa luar biasa tersebut, maka pemberian layanan bimbingan dan konseling di sekolah luar biasa sangat urgen untuk dilakukan.

Alat Penilaian Kemampuan Konselor Mengelola Konseling Behavioral (Nur Hidayah, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan yang diberikan kepada siswa dalam upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Konselor sebagai petugas profesional mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Sebagai helper ia bertugas sangat berat, sekalipun sudah dibekali wawasan dan ketrampilan ini pun belum cukup menjamin keterlaksanaan program bimbingan dan konseling secara efisien dan efektif. Sehubungan dengan keterlaksanaan layanan konseling khususnya, para konselor banyak mengalami kerisauan terhadap hasil bantuan yang diberikan kepada siswa/kliennya. Ia merasa kurang yakin apakah perubahan perilaku, sikap, pikiran, dan perasaan klien itu dari hasil intervensi konseling? Selama konselor belum berupaya mencari solusi kesulitan yang dialaminya maka perasaan-perasaan tersebut senantiasa mengganggu. Melalui tulisan ini dicobatawarkan salah satu alat atau instrumen yang memadai untuk mengevaluasi kemampuan atau ketrampilan para konselor maupun calon konselor dalam praktik konseling. Alat/instrumen ini memadai untuk mengevaluasi cara mengelola konseling berorientasi tindakan (behavioral), disebut “Alat Penilaian Kemampuan Konselor Mengelola Konseling Behavioral”.

Kenakalan Remaja dan Upaya untuk Mengatasinya (Hariadi Kusumo, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Kenakalan remaja merupakan gejala umum, khususnya terjadi di kota-kota besar yang kehidupannya diwarnai dengan adanya persaingan-persaingan dalam memenuhi kebutuhan hidup, baik yang dilakukan secara sehat maupun secara tidak sehat. Persaingan-persaingan tersebut terjadi dalam segala aspek kehidupan khususnya kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Betapa kompleksnya kehidupan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja. Penyebab kenakalan remaja sangatlah kompleks, baik yang berasal dari dalam diri remaja tersebut, maupun penyebab yang berasal dari lingkungan, lebih-lebih dalam era globalisasi ini pengaruh lingkungan akan lebih terasa. Pemahaman terhadap penyebab kenakalan remaja mempermudah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut dapat bersifat preventif, represif, dan kuratif. Tanggung jawab terhadap kenakalan remaja terletak pada orangtua, sekolah, dan masyarakat, khususnya para pendidik baik yang ada di keluarga (orangtua), sekolah (guru-guru dan para guru pembimbing) maupun para pendidik di masyarakat, yakni para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat.

Uji Persyaratan Analisis dan Implikasinya dalam Riset Pendidikan (I.M. Hambali, Universitas Negeri Malang)
Abstract: Statistika merupakan alat bantu untuk menyajikan data sehingga menjadi lebih informatif dan untuk menguji hipotesis suatu penelitian. Sesuai dengan sifatnya sebagai alat bantu, statistika tidak mengenal apakah angka yang dianalisis itu mempunyai arti atau tidak. Setiap angka yang masuk akan keluar hasil analisisnya. Penelitian pendidikan merupakan kelompok penelitian bidang ilmu-ilmu soaial yang kegunaannya lebih praktis dan penting dalam kehidupan manusia. Dalam perannya yang tidak diragukan, maka penelitian pendidikan dituntut memiliki kualifikasi yang memadai. Kualifikasi itu sebagian ditentukan oleh kualitas dan analisis data. Dalam analisis itulah peneliti harus berhati-hati termasuk di antaranya peneliti harus memperhatikan asumsi yang disyaratkan oleh teknik analisis tertentu. Dalam kajian ini penulis mencoba mengemukakan pentingnya uji asumsi dan seberapa jauh peneliti harus memperhatikan.

Info SMAN 4 Kediri Terbaru

EVALUASI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2007 / 2008
Hasil evaluasi semester I telah dilaksanakan pada tanggal 9 Pebruari 2008.
Hasil Semester I bagi Kelas XII digunakan sebagai Acuan siswa untuk Pendaftaran PMDK ke PT.

Bagi kelas X ini dijadikan acuan atau prediksi dalam kenaikan kelas yang nantinya juga dalam Penjurusan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.